Rabu, 18 Agustus 2010

That's Your Problem

Setiap tahunnya kantor gw mencetak kalender meja yang akan dikirimkan kepada klien dan kerabat dekat dari para boss gw. Jujur aja kalendar kantor gw itu bagus banget lho dari segi artistiknya karena kita memang kerjasama dengan pelukis/seniman. Dimana kita akan tampilkan 12 belas dari karya mereka di kalendar kita itu. Bagi boss gw ini merupakan proyek mercusuar alias pamer kebolehan sedangkan bagi si pelukis ini merupakan ajang promosi karya mereka. Istilah pelajaran biologi: symbiosis mutualisme.

Diantara seratus tugas yang harus gw kerjakan sebagai pembantu pribadi (personal assistant) adalah mencari senimannya, menghubungi gallery dan negosiasi harga. Naaah untuk dua tugas pertama yang gw sebut tadi termasuk gancil (gampang dan kecil), tinggal browsing di internet juga bisa. Tapiii...tugas yang paling terakhir itu yang berat. Gimana nggak berat? Gw mesti nambahin minimal 3 lapis kulit dimuka gw demi menahan malu.

Boss: Saya suka dengan karya-karya nya very unique. Tolong minta pricelist nya
Gw: Ini boss price list nya
Boss: Ouch! Mahal sekali..belom ngetop aja udah patok harga segitu. Gimana kalau udah ngetop? Coba deh ditawar lagi.
Gw: Kira-kira berapa budget nya boss?
Boss: You kira-kira aja sendiri
Gw: Baiklah kalau begitu

Maka gw kembali ber-email ria dengan yang punya gallery (sebut saja bu gallerist), untuk minta diskon 15% dulu. Iseng-iseng berhadiah siapa tau orangnya mau. Setelah tarik ulur akhirnya bu gallerist menyetujui pemberian diskon 15% sambil wanti-wanti, the price is already steep you know.

Dengan perasaan bangga gw menyodorkan price list baru kepada si boss, harga yang sudah di diskon gw beri warna biru kalem supaya dia notice. Dan jawaban si Boss: Masih kemahalan. Tawar lagi.

Gitu ya? Oke deh..gw coba lagi sambil pasang lapis kedua di kulit muka gw sebelum menelpon bu gallerist. Kembali tawar menawar terjadi dan akhirnya dengan ajian rayuan pulau kelapa mereka memberi sedikit lagi diskon menjadi 20% dengan catatan ini yang terakhir kalinya. 

Boss: Hmm...still too expensive. Tawar lagi. 30,000 dollar untuk 12 karya
Gw: But this is the best I can get. The gallery said the price is already steep
Boss: That's not my problem

Halah..terus jadi problem gw gitu? Huukkk...

Kembali menelpon bu gallerist dengan nada suara manis bagaikan madu cap sarang tawon. Doski mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan gw dengan jutek sambil mengirimkan email berisi bukti-bukti pendukung bahwa seniman mereka cukup bonafid dan dikenal di dunia internasional. Begitu gw sebutkan proposal kurang asem dari boss gw seketika telpon ditutup. I'm sorry we can't accept your offer..tuut..tuuut...tuut.

Tinggallah gw terduduk, termangu, tergugu tak berdaya udah bulan Agustus gini kemana lagi gw mesti mencari seniman penggantinya?! Terbayang seketika wajah boss gw: That's not my problem! 

Huuaaaa....terkapar.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar